Sabtu

7:16:00 PM


“Time flows in strange ways on Sundays, and sights become mysteriously distorted.”
– Haruki Murakami

Kalau kalian pernah membaca buku Haruki Murakami, pada salah satu bukunya yang berjudul IQ84, di situ Haruki Murakami menuliskan bahwa si tokoh, Tengo, memiliki suatu perasaan yang aneh yang muncul pada hari Minggu. Ada pengalaman khusus pada si Tengo yang membuatnya selalu merasa aneh dengan waktu yang berjalan dan apa apa yang terjadi di setiap hari Minggu.

Begitupun denganku. No. Not in Sunday, anyway. Tapi hari ini, hari Sabtu.

I never know before that Saturday could be this interesting. Sebelumnya, aku merasa hari Sabtu adalah hari yang biasa. Seperti biasa dan terlalu biasa seperti hari hari lain yang juga biasa. Bagiku, Sabtu hanyalah salah satu bagian dari weekend, dari hari libur yang aku miliki setiap minggu. Sabtu buatku adalah hari yang kugunakan untuk membaca, ke perpustakaan kota, tidur, membereskan kamar kos, atau sekedar bermalas malasan sambil mendengarkan musik.

But your life could change in a second. Mungkin sekitar 7200 detik yang lalu, ah bukan, lebih tepatnya 9000 detik yang lalu, detik di mana aku memutuskan untuk mengisi Sabtu ku dengan melanjutkan membaca Relativitas di suatu perpustakaan kota. Minggu ini aku terlalu miskin untuk sekedar membeli secangkir mocca latte di coffee shop langgananku.

Perpustakaan kota pada hari Sabtu relatif sepi pembaca, not to mention fakir wifi yang banyak berjajar di area outdoor perpustakaan, ya. Ah, kapan sih, negeri ini memiliki budaya membaca. Gumamku. Aku terduduk di tepi dekat dinding area baca perpustakaan. Hanya ada dua – tiga orang yang terlarut pada bacaan, atau catatannya masing masing.

Aku pun terlarut pada bacaan berbasis arsitektur selama hampir setengah jam penuh. Sampai akhirnya aku terbuyarkan oleh suara derit pintu dibuka. Seorang perempuan berusia kira kira dua hingga tiga tahun di bawahku dengan baju terusan berwarna biru tua dan cardigan berwarna hijau limau. Rambutnya lurus hitam sebahu dengan wajah sedikit oriental dan make up tipis natural.

Your life could change in a second. Really.

Perempuan itu menoleh ke kanan dan kiri mencari cari tempat duduk kosong. No. Dia tidak duduk di sebelahku. Dia memilih duduk di jajaran kursi bulat empat empat di seberang diagonalku. Tiba tiba materi Relativitas yang disampaikan Adi Purnomo tidak lagi dapat kupahami betul. Sudah minggu kedua berturut aku membaca buku di hari Sabtu di perpustakaan kota ini, baru kali ini aku melihat perempuan itu. Perempuan yang mungkin sama sama nerd nya untuk sekedar membaca buku di perpustakaan kota. Really, untuk paras secantik dia, dan usia sekitarnya, aku kira, dia akan lebih memilih mall atau coffee shop ternama.

Perempuan tadi membaca suatu buku yang tidak terlihat cover nya dengan jelas dari sini. Apa yang dia baca? Seperti apa selera bukunya? Non fiksi kah? Fiksi kah? Atau science fiction? Atau hanya bacaan drama cheesy teenlit sesuai umurnya? Sekitar satu setengah jam kemudian aku membaca Relativitas pada suatu bab berulang ulang karena rasanya konsentrasiku terpecah akan keberadaan perempuan tadi di sisi diagonal seberangku. Sampai akhirnya perempuan tadi seperti sedikit terhenyak dan cepat cepat memasukkan bukunya - still can’t see the book cover, by the way - dan bergegas keluar dari ruangan baca perpustakaan ini.

 Yup. Sejak Sabtu itu, aku entah mengapa seperti kerbau ditusuk hidungnya, sampai sampai tanpa sadar aku mengendarai motorku pada hampir setiap hari Sabtu dengan jam yang kira kira sama dengan minggu lalu kembali ke perpustakaan ini, dengan bacaan berbeda, yang sedikit lebih ringan, agar aku tidak lagi pusing mengulang ulang Relativitas seperti minggu lalu. Dengan sedikit berharap tipis aku memasuki ruang baca perpustakaan.

Shit, she is here!

Perempuan itu duduk di jajaran kursi di meja panjang yang minggu lalu aku tempati. Ah, mungkin dari minggu lalu dia memang ingin duduk di situ. Kali ini dia tampak mengikat ekor kuda rambut lurus hitam sebahunya dan mengenakan pakaian berlengan pendek dengan kerut di bagian lengannya. Terlihat menunduk serius membaca bukunya - entah apa yang dibacanya. Jantungku berdegup kencang. Should I, shouldn’t I? Aku melangkah perlahan mencoba tampak tenang dan memutuskan untuk duduk berhadapan dengan perempuan tadi.

Meletakkan tas ransel bututku di meja, tanganku menggeser sedikit mengeluarkan kursi. Sedikit terkaget dia dan menengadahkan kepalanya. Aku tersenyum sedikit. “Boleh duduk di sini?” tanyaku. Basa basi basi ala awal 90 an yang mungkin tidak perempuan itu tahu. Perempuan itu tersenyum kecil membalas senyumanku dan mengangguk sedikit.

Oh damn!

Aku mengeluarkan Arsitektur yang Lain ku. Mencuri lirik sedikit ke arah buku yang sedang dibacanya. Tampak sedikit aku kenal tampilannya. “Negeri Para Peri?” celetukku spontan. Murni bukan karena sedang berusaha mendekati seorang perempuan, hanya karena sesama pembaca buku. Finger cross. Perempuan tadi menghentikan aktivitas membacanya.

“Iya..” sahutnya pelan. Pertama kali aku mendengar suaranya. Suaranya biasa saja, seperti perempuan perempuan lain, sedikit pelan dan berada di tangga nada yang tinggi.

“Ah, kebetulan saya juga sedang membaca karya Avianti Armand yang lain.” Lanjutku, menunjukkan Arsitektur yang Lain yang sedang ada di tanganku.

“Kakak arsitek ya?”

“Bisa jadi.” Aku tersenyum sambil menjawab pertanyaannya. “Oh ya, nama kamu siapa?”

Kami berjabat tangan sebentar, saling menyebutkan nama kami, dan terlarut dalam bacaan kami masing masing.

Minggu pertama kami berkenalan kami berbincang bincang di sela sela bacaan kami masing masing. Mostly tentang bagaimana ceritanya dia membaca buku Avianti Armand dan buku favorit kami masing masing. Rupanya dia adalah seorang pelajar kelas dua belas Sekolah Menengah Atas yang sedang mempelajari beberapa fakultas untuk pilihan universitasnya nanti. She want to be a architect. Dia menunggu di perpustakaan ini karena dekat dengan tempat bimbingan belajarnya. As simple as it.

Sabtu demi Sabtu berlalu dengan aneh. Kami hanya bertemu dan berbincang setiap hari Sabtu pada sekitar jam satu hingga jam tiga. Hanya itu. That two hours really change how I see a weekdays. Rasanya sudah tidak sabar aku cepat cepat melalui weekdays dan kembali weekend untuk sekedar duduk membaca dan berbincang di sela bacaan kami di hari Sabtu.

And after I met her, Saturday really flows in a strange ways.

Semua seolah berjalan cepat dan lambat secara bergantian dengan aneh. Bisa jadi aku membaca satu bab bacaan dalam waktu dua hari berulang ulang tidak paham, bisa jadi keterbalikannya, satu buku kuhabiskan kurang dari satu hari. Saat kami berbincang bincang waktu berjalan dengan lebih aneh lagi. Aku tidak bisa menggambarkannya. Seolah berjalan lambat terlalu lambat kemudian tiba tiba seperti ada remote yang menekan tombol forward dan semua bergerak sangat cepat.

Hari Sabtu ini aku bangun kesiangan. Aneh. Aku hampir tidak pernah bangun kesiangan. Kemarin pun aku tidak pulang terlalu malam. Aku bergegas mandi, sikat gigi, dan sarapan roti tawar seadanya untuk segera menuju perpustakaan seperti yang biasa aku lakukan pada hari Sabtu di satu dua bulan terakhir ini. Hari ini sangat aneh. Aku masih mengantuk, padahal aku bangun kesiangan. Aku hampir terkantuk kantuk di atas motor bebekku. Atau memang setiap hari Sabtu waktu berjalan dengan aneh?

Aku tiba di perpustakaan sedikit terlambat dari biasanya aku bertemu dengan perempuan itu. Perpustakaan hari ini sangat sepi. Tidak ada orang hanya penjaga perpustakaan. Aku duduk di tempat biasanya dan membaca suatu bacaan baru. Tumben dia belum datang.

Tik tok tik tok tik tok.

Satu menit, dua menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, dua jam, tiga jam. Dia masih belum juga datang. Dan kami sama sekali belum pernah bertukar nomor telepon atau alat komunikasi lainnya semacam sosial media. Aku pulang dengan perasaan kecewa. Mungkin dia sakit, dan tidak masuk les, pikirku.

Sabtu hari ini sangat aneh, sudah dua bulan berturut kami bertemu dan berbincang di sela sela buku kami masing masing di perpustakaan di hari yang sama, jam yang sama, dan tempat yang sama. Aku berulang ulang membaca satu paragraf yang sama tanpa sekalipun memahami isinya. Apa dia sudah pulang karena aku terlambat? Atau hari ini dia sakit? Apa dia sudah tidak lagi mengikuti bimbingan belajar. Aku bahkan belum sempat meminta nomor teleponnya. Berbagai pertanyaan dan penyesalan muncul dengan anehnya di kepalaku. Sampai aku tertidur dan terbangun sudah tidak di hari Sabtu.

Hari hari berikutnya hari hari ku berjalan kembali seperti biasa. Sampai hari Sabtu kembali tiba. Anehnya, hari ini aku sudah tidak merasa aneh. Aku kembali menuju perpustakaan. Perpustakaan sepi, sama sepinya seperti minggu lalu. Aku kembali mengulang apa yang aku lakukan minggu lalu, duduk di tempat yang sama dan membaca masih bacaan yang sama.

Tik tok tik tok tik tok.

Satu menit, dua menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, dua jam, tiga jam. Dia tidak datang lagi. Anehnya, waktu ku di hari Sabtu ini tidak lagi terasa aneh. Hari ini aneh, karena tiba tiba waktu di hari Sabtuku tidak lagi berjalan dengan aneh.

Your life could change in a second, dan pada detik aku tidak bertemu dengannya di suatu hari Sabtu, hidupku berubah kembali.


Addina Faizati
dibuat pada suatu malam sepulang dari Todays' Koffie
diselesaikan hari ini
terinspirasi dari cerita salah seorang teman :)

You Might Also Like

1 comments