IndoChina Trip (5Countries 10Days): Mystical Sunrise in Angkor Wat

5:22:00 PM

Sebelumnya :
Indochina Trip (5Countries 10Days) : Prolog
Indochina Trip (5Countries 10Days) : Malam di Singapura
Indochina Trip (5Countries 10Days): Suatu Siang (yang panjang) di Singapura
Indochina Trip (5Countries 10Days): Karma Malaka
Indochina Trip (5Countries 10Days): Such a Slow Day in Malacca
Indochina Trip (5Countries 10Days): Bangkok's Unpredictable Crowd
Indochina Trip (5Countries 10Days): God is in Details
Indochina Trip (5Countries 10Days): Crowded yet Empty Cambodia

Day 7, 5 April 2015

We started our day so early to catch up the famous sunrise in Angkor Wat. Seperti yang sudah dikatakan oleh Lucky, kami harus sudah siap dijemput pukul 5 di depan One Stop Hostel. Kami siap sekitar lima menit setelah Lucky menjemput kami, so sleepy! Dalam perjalanan menuju Angkor Wat ternyata kami tidak sendiri, kami melihat banyak tuk-tuk dan bahkan pengendara sepeda yang didominasi oleh foreigner bule. FYI, tuk-tuk adalah semacam bajaj dengan konsep super terbuka dan kami harus menembus jalanan subuh-subuh dan yes, so cold and sleepy!

Dari pusat kota Siem Reap menuju Angkor Wat tidak memerlukan waktu lama, kira kira 10 - 15 menit saja, kami melewati sedikit hutan-hutan tinggi sebelum memasuki area Angkor. What is more surprising was, kami tiba di area tiket Angkor sekitar pukul 5.20 dan whoaa! crowded as hell! Kami tidak berekspektasi Angkor Wat akan seramai itu di pagi hari, I mean, ya iya sih this is the biggest temple in the world, but, antrian panjangnya sudah membuat kami down duluan.

Angkor Wat memiliki 3 jenis tipe tiket, one day pass, three days pass, dan six days pass, dengan harga yang bervariasi, yang jelas membeli tiket pass tiga dan enam hari jauh lebih murah daripada membeli one day pass. Kami tentu saja membeli tiket one day pass seharga 20USD, uniknya, tiket Angkor Wat ini semacam berupa kartu tanda pengenal, jadi kami harus memperlihatkan passpor kami dan kami bahkan difoto sebelum masuk. Kartu langsung di print sebelum kami masuk dan kartu ini harus diperlihatkan di setiap area Angkor Wat. Kami selesai mengantri dan mulai kembali ke tuk-tuk sekitar pukul 6 pagi.

Setelah membeli tiket, Lucky mengantarkan kami untuk menuju area utama Angkor Wat dan menurunkan kami di lokasi parkir dan berkata bahwa dia akan menunggu kami di situ dan akan mengantar menuju lokasi selanjutnya. FYI, area Angkor Wat ini benar-benar besar dan memang harus menggunakan kendaraan berupa tuk-tuk kalau kamu hanya membeli one day pass. Untuk beberapa foreigner yang memang memiliki three days pass atau six days pass mereka bisa menyewa sepeda untuk berkeliling sesuka hati.

Kami tidak menyangka bahwa Angkor Wat di pagi hari benar-benar ramai. Kami berjalan memasuki area Angkor Wat yang luas dan dikelilingi oleh supposed to be danau yang berisi air, namun katanya sedang musim kering jadi tidak ada air namun berupa sedikit lumpur di kanan kiri. Agak bingung apakah matahari sudah terbit atau belum, sudah cukup terang tapi belum ada tanda-tanda matahari. Kami berjalan cukup dalam sampai kemudian kami berkenalan dengan seorang Filipina bernama Sandra yang kemudian akan ikut dalam rombongan kami. Setelah sekitar 10 menit wandering around area luar Angkot, kami melihat sedikit bulat berwarna jingga dari balik tiga tower khas Angkor Wat!

So mytically beautiful! Matahari seolah-olah muncul dari balik Angkor Wat berbentuk bulat merah-oranye keemasan. Beruntung cuaca cukup cerah sehingga matahari berbentuk bulat sempurna. Secara serentak foreigner berhenti di tempat masing-masing dan menikmati moment tersebut sambil mengambil gambar. And I just wondering the same concept with Borobudur as well. Borobudur juga memiliki konsep 'sunrise' dan memiliki kesamaan sesama Candi Budha. Whoa, umat Budha pada masa itu benar-benar memikirkan 'konsep' rumah ibadah dengan misteriously beautiful and peaceful.


Mystically beautiful
Setelah matahari naik sempurna, kami mulai memasuki area Angkor dan berkeliling. Cukup sulit menggambarkan area Angkor ini, karena areanya benar-benar luas. Untuk candi utama nya saja, kami kira-kira memerlukan waktu 2-3 jam sendiri. Area utama Angkor ini kalau digambarkan seperti sebuah selasar besar yang mengeliliki beberapa 'tower' di bagian innercourt nya yang dihubungkan dengan selasar-selasar dan tangga. Pada selasar terdapat juga relief yang menceritakan sejarah Angkor Wat. Berbeda dengan Borobudur, pada Angkor Wat, terdapat garis batas dilarang melintas agar pengunjung tidak merusak relief.

Kami berkeliling bersama Sandra sambil saling menceritakan tentang cerita culture masing-masing dan menikmati betapa quiet and peaceful nya Angkor Wat. Suasananya masih sakral, terkadang di beberapa titik acak terdapat monk yang mendoakan sesuatu di sana. Rasanya segan untuk berbincang keras-keras di Angkor Wat. It is always give me some strange feeling when I go to the temple like this.

Hampir sama seperti kebanyakan candi, Angkor Wat adalah candi dengan skema yang simetris dan terbuat dari batu yang sedikit banyak mirip namun berbeda dengan Borobudur, batu-batu di Angkor Wat didominasi warna kecoklatan seperti tanah, sedangkan Borobudur didominasi oleh batu-batu hitam besar.

Masih ada tanda tanya buat saya dan Hanief, di mana kah letak danau besar yang memantulkan Angkor dengan sempurna? Kami berjalan sampai bagian belakang Angkor tapi tetap tidak menemukannya. Lately, ternyata sedikit lumpur di depan yang kami temui pagi tadi adalah danau yang kering karena musim kemarau tadi. Sayang sekali, padahal kami sudah mengincar moment Angkor dan danau tadi.


Angkor Wat
Sekitar pukul 9 pagi kami menuju tempat parkir dan kembali menemui Lucky untuk menuju ke area Angkor selanjutnya. FYI, area Angkor Wat adalah seluas radius 30km, dengan banyak Angkor yang bertebaran di beberapa titik. Angkor Wat sendiri artinya adalah City of Temple, no wonder, karena memang area nya sangat luas. Untuk nama-namanya saya sendiri juga kurang hafal, namun beberapa signature temple dari Angkor Wat adalah Ta Phrom dan Bayon sebagai salah satu tujuan utama kami.

Dalam perjalanan menuju Bayon dengan menggunakan tuk-tuk dan Lucky, kami melewati hutan-hutan dan beberapa jembatan yang melalui sungai kecil dan gerbang yang semuanya juga berupa temple kecil. I'm not sure if this city of temple was like this or jembatan dan gerbang nya adalah hasil konservasi heritage.

Kami tiba di Bayon yang disebut-sebut sebagai candi seribu wajah. We don't realize it at first, dari dekat, batu-batu tadi seperti broken atau rusak. Saat berada di dalam area Bayon kami bertanya-tanya ini bentuk nya dari mana sih? dan semacamnya. Kemudian begitu berjalan keluar, kami baru menemukan Aha! moment bahwa Bayon benar-benar berbentuk wajah-wajah (tower-tower kecil), sedangkan podium nya bebentuk Budha tidur. How brilliant is that! Kami juga membaca proses konstruksi nya di papan penunjuk sebelum keluar.

Saya berusaha mendapatkan gambar yang tepat untuk menjelaskan bentuk 'wajah' Buddha tadi namun rasanya memang candi ini diciptakan untuk dirasakan sendiri karena saya tidak menemukan bagian yang tepat untuk ditangkap.

Kami menuju tuk-tuk lagi dan berpindah lagi menuju candi berikutnya. Candi berikutnya saya kurang hafal namanya apa, yang jelas berupa area besar yang membuat kami harus berjalan cukup jauh. Lucky berpesan pada kami dia akan menunggu kami di area parkir sebrang karena setelah ini tuk-tuk tidak diperbolehkan dan kami harus berjalan kaki sendiri melewati area tadi. You have to noted that Cambodia is so damn hot! Walaupun area candi yang kami masuki ini berada di dalam hutan, masih saja panas dan ditambah kombinasi kami harus berjalan. Berbeda dengan Grand Palace yang semi indoor, Angkor Wat benar-benar totally outdoor.


Area 'indoor'
Well, selama perjalanan kami menemui beberapa candi, ada candi kembar, ada yang ruined, ada juga yang konon menjadi tempat duduk raja/petinggi Budha untuk mengawasi kota.Bagian menariknya adalah saat kami harus memasuki lorong yang berbentuk menyerupai labirin dengan patung-patung relief di kanan-kiri bagian bawah, namun bagian atas nya lurus rata polos setinggi kira-kira 3m berwarna merah bata. Kami berusaha memotretnya, but once again, you have to experience this moment by yourself to know how it feels!

We almost died at that moment! Panas super maksimal, setelah hampir mati di Grand Palace dua hari lalu, di sini kami lebih hampir mati lagi because there is no free cold water here! Ditambah diantara kami bertiga yang bawa minum cuma saya, those boys, well, selama 2 jam kami berjalan, kepanasan, dan kehausan, rasanya seperti malaikat saat kami melihat area parkir tuk-tuk dan bertemu Lucky, dan ada area jual minum!

Kami beristirahat sebentar sambil minum air dingin, dan membeli satu untuk bekal perjalanan selanjutnya, because this is still not the end of Angkor Wat, by the way, dan kami belum menemui puncak penasaran kami dan melihat Ta Phrom. Kami segera naik tuk-tuk dan kembali menikmati semilir angin di antara hutan-hutan Angkor Wat. Sebelum mencapai Ta Phrom, kami berhenti di beberapa candi terlebih dahulu.

Oh ya, candi-candi di Angkor Wat memiliki ukuran tangga super ekstrim, ukuran per-anak-tangga nya mungkin 50cm, dan dengan sudut 45'. Pada suatu candi, saya menyatakan menyerah karena saya merasa terlalu tinggi dan berbahaya, hanya Hanief dan Hendro yang naik sampai tingkatan terakhir dan melihat area Angkor dari atas. Saya menunggu di tingkat kedua dengan seorang mbak-mbak yang juga menyatakan menyerah dengan ke-super-ekstrim-an tangga-tangga Angkor. Well, konon zaman dulu orang-orang nya raksasa, kan?

Finally! Kami tiba di candi yang sudah kami tunggu-tunggu, candi ini adalah yang muncul di film terkenal Tomb Raider, sekaligus sebagai candi eksotis yang tumbuh serta bersama dengan pohon yang sudah hidup entah berapa lama. It's magically beautiful! Bahkan kalau diperhatikan detail, di antara pori-pori batu kami dapat melihat tanaman yang hidup.

Ta Phrom merupakan salah satu temple yang nyaris, nyaris runtuh karena sudah tidak kuasa menahan beban pohon yang benar-benar like literally berada di dalam temple tadi, entah bagaimana sejarahnya, namun beberapa bagian Ta Phrom tidak boleh dilewati dan bahkan diberi beberapa tiang besi penyangga. Sebagai perbandingan, kalau melihat foto di bawah ini, ada pintu, itu pintu kira-kira tingginya hanya 180cm - 2 meter, nah bayangkan berapa besar pohonnya. I can't picture it all in one frame.


Ta Phrom
Another part of Ta Phrom
Setelah seharian kami berkeliling Angkor, kami merasa puas karena puncak sekaligus penutup perjalanan Angkor kami adalah Ta Phrom, oh ya, kami juga sempat melihat seorang sketcher di Ta Phrom, mengingatkan saya dengan teman-teman Bandung Sketchwalk. Selama perjalanan dari Ta Phrom menuju lokasi parkir tuk-tuk kami juga sempat melihat pertunjukkan musik tradisional Khmer yang diciptakan untuk teman-teman difable. Later we will know why in the next post.

Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 2-3 siang menjelang sore baru kami kembali ke hostel dengan terkantuk-kantuk oleh semilir angin di antara hutan Angkor, capek, kepanasan, kelaparan, kehausan, dan kami berpisah dengan Lucky, he is a good tuk-tuk driver, for sure! Thank you for driving us around, Lucky!

Well, Angkor Wat benar-benar menjadi salah satu one of the best moment dalam perjalanan kami, quiet, mystic, peaceful, misterious, beautiful at the same time. Dan hari itu saya putuskan adalah menjadi hari 'terberat' kami selama perjalanan. Tidak heran kalau ada tiket tiga hari dan bahkan enam hari, rasanya satu hari terlalu berat untuk dijalani mengitari area radius 30km tadi.

But afterall, we have such a wonderful experience here!


Selanjutnya:
IndoChina Trip (5Countries 10Days): Epilog
IndoChina Trip (5Countries 10Days): Budget and Itinerary
Addina Faizati

You Might Also Like

2 comments

  1. Pada suatu candi, saya menyatakan menyerah karena saya merasa terlalu tinggi dan berbahaya.

    Pertanyaan(20poin): Apakah nama candi tersebut?

    ahahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. gatau namanya sesuatu yg bahasa lain hahaha :"")))

      Delete

addinaf

hersketch