Fiksi

7:33:00 PM


this song inspired by song made by my friend. simply listen to this song while you read this story: https://soundcloud.com/baskoro-haryo/arsi-2009-1 :)

FIKSI

Kamu. Siang itu. Hampir setiap mataku melihatmu dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini, kamu selalu terlihat cantik dan sempurna. Hari ini pun begitu. Lebih cantik, bahkan. Senyum bahagiamu lebih cantik daripada make up semenor apapun. Senyum bahagiamu lebih cantik daripada perhiasan semahal apapun. Tidak pernah tahu aku kalau sebelumnya, klise ternyata seindah dan sesederhana melihatmu dan senyum mu.

Aku tidak pernah menyangka bahwa waktu empat tahun adalah secepat ini. Secepat kamu dan tugas akhirmu. Harus seperti apa aku mendeskripsikan kecepatan waktu tiga ratus enam puluh lima hari dikalikan empat sama dengan durasi waktu pertemuan kita yang tidak pernah ada harganya itu?

Relativitas waktu milikku tidak lagi berlaku denganmu. Empat tahun rasanya terlalu cepat. Lebih cepat daripada janji janji ku pada hatiku tentang mendekati dan mengungkapkan apa yang sudah terlalu lama tertutup rapat. Tertutup rapat karena malu. Malu yang terlalu larut.

Ribuan imaji akan perbincanganku denganmu hanyalah menjadi imaji. Imaji yang tidak pernah terealisasi. Entah sudah berapa ratus ribu juta kali aku merutuki diriku sendiri dan nyali kecilku yang tidak pernah berani untuk sekedar menyapamu di suatu pagi, atau di suatu siang, suatu sore, atau di suatu hari yang acak saat kita tidak sengaja ataupun kusengaja agar kita dapat bertemu. Aku dan kamu.

Aku dan kamu. Bisa jadi kita berdua adalah fiksi terhebat yang pernah kuciptakan seumur hidupku. Fiksi terfiksi yang pernah kurangkai. Dirangkai dari jutaan kata dalam khayalan yang tidak pernah dituliskan dengan tinta. Imaji yang anehnya mampu kuingat tiap detail skenario ceritanya. Skenario kosong tidak bermakna yang tidak pernah dan tidak akan terjadi.

Kulihat kamu berjalan pelan dengan beberapa temanmu. Masih dengan senyum cantik yang sama. Yang tidak menor dan tidak mahal. Sederhana. Klise. Tapi indah. Senyum yang tidak pernah diperuntukkan kepadaku dalam seribu empat ratus enam puluh hari terakhir ini. Setelah ini apa? Apa? Fiksiku telah selesai.

“Nina, selamat ya buat kelulusanmu.”

         Keberanianku tiba tiba muncul. Adegan terakhir yang tidak pernah kutuliskan dalam rangkaian paragraf fiksiku selama ini. Satu adegan singkat.
Masih dalam semilir angin yang sama. Nada warna yang sama. Kamu tersenyum lembut sambil menatap mataku. “Terimakasih.” Jawabmu pelan malu malu. Tak lama setelah aku menyelamatimu, jauh lebih malu malu daripada malu malu mu padaku.

Kemudian kamu berlalu.


Addina Faizati
19 April 2013
malam dan hujan

You Might Also Like

2 comments

addinaf

hersketch