Reason(s)

8:38:00 PM



There is a thing (or more) in this city that could make you come back and still survive here.

Ada beberapa hal yang mungkin tidak bisa kita pahami dengan akal sehat mengapa kita masih bisa mempertahankan sesuatu hal. Entah itu pekerjaan, kantor, pertemanan, relationship, kos kos an, gadget, warung makan, dan hal hal kecil lainnya.

Pemikiran absurd ini terpikirkan setelah akhir pekan kemarin saya mengunjungi ibukota hanya selama kurang dari satu hari. Cuma sebentar, setengah hari. Saya pribadi mengakui kurang menyukai atmosfer ibukota. Macet, panas, polusi, kotor, culture, dan sebagainya dan sebagainya. Tapi entah kenapa memang selalu ada perasaan melankolis yang aneh kalau saya melewati malam di ibukota, melewati lampu lampu remang remang dari bangunan tinggi, dari lampu kendaraan, dan entah apa.

Teman saya, yang notabene bekerja di ibukota (saya tidak), mengatakan bahwa sebagaimana bencinya dia dengan ibukota, tetap saja ada hal hal kecil yang membuat dia masih mau bertahan. Entah itu pekerjaannya, uang yang didapat, atau sesederhana bagaimana dia bercerita tentang Taman Suropati. Taman kesukaannya yang menurutnya masih membuat manusia menjadi manusia di ibukota ini.

True. I always have a small good reason to everything.

Saya tidak pernah membenci Bandung. Tapi saya punya banyak alasan yang membuat saya ingin pulang ke Jogja, sesederhana, saya rindu kucing, saya kangen kampus, saya pengen minum es teh enak di Jogja, dan hal hal sepele lainnya. Namun ada juga alasan alasan yang membuat saya mempertahankan Bandung. Entah itu event event asik nya atau masalah lain seperti sudah berjanji akan jalan dengan teman teman di Bandung.

Atau bagaimana saya merasa kurang nyaman dengan kos saya yang begitu ramai dengan mahasiswa yang kurang rapih menjaga kebersihan dapur (saya sok rapi tapi, ini emang bener sih), namun saya masih tetap bertahan karena entah alasan apa saya juga tidak memahami. Entah karena garasi motornya, atau jendela menghadap luarnya, atau taman kecil di dalam kos yang tidak membuat saya sumpek di kos.

Contoh lain lagi, saya yang sudah lelah dengan laptop yang kalau kepanasan bisa mati sendiri, baterai yang drop tidak bisa nyala tanpa colokan, dan sebagainya. Selain karena alasan keuangan, hal hal melankolis lain yang diluar akal sehat bisa menjadi alasan yang terlalu kuat untuk mempertahankan ini semua.

See? Bukankah ini berarti terlalu banyak manusia membuat buat alasan untuk kenyamanan diri mereka sendiri. Padahal menurut saya, sebenarnya, tidak semua hal yang ada di dunia ini ‘beralasan’. Maksudnya, sama seperti proses desain pun ada yang namanya black box.

We don’t really know how we come into this, but we just know that this is the right place/form/time/person.

Mungkin kita memang tidak perlu memiliki alasan khusus untuk meninggalkan sesuatu tempat, atau seseorang, atau apapun. Atau kebalikannya, kita tidak perlu menjadikan alasan alasan tadi sebagai pembenaran bagi kita untuk meninggalkan suatu tempat, seseorang, atau apapun.

We just know 'it' without the reason.Reason(s) only make us feel comfort with our own decision.

Pada akhirnya, bisa jadi kita hanya mencari cari alasan untuk pembenaran diri sendiri. Untuk kenyamanan diri sendiri atau keputusan yang kita buat. I bet we are all have that moment where you don't know why you decided something and ended up you created a bunch of reasons for the sake of your heart. Or you choose 'destiny' as one of your reason. 

But here we are, human; always have a small good reason to everything.
And I still don’t have that ‘reason’.

To stay or to leave.

Both.



Addina Faizati
Secret of the World - Adhitia Sofyan

You Might Also Like

3 comments

  1. Ah, aku suka kata2nya :)
    Intinya sih terlalu banyak alasan atau bahkan tidak ada alasan yang kadang membuat kita menjadi suka/benci tentang sesuatu hal :D

    ReplyDelete
  2. Kadang memang butuh alasan, tapi nggak perlu dijelaskan. Cukup simpan aja dalam hati. :)

    ReplyDelete