Rumah untuk Pulang

10:49:00 PM



Aku sedang duduk menghadap beranda rumahku sore itu. Dengan secangkir kopi pahit panas ditangan kananku, dan koran minggu pagi di tangan kiriku. Sesekali mataku mengamati anak laki laki ku semata wayang yang sedang mengendarai sepeda roda duanya di halaman rumahku.

Sore ini seperti sore sore biasanya begitu tenang dan damai. Seperti yang kamu inginkan, sayang. Rumah dua lantai dengan halaman dan beranda di bagian depan. Dipenuhi rumput hijau dan jalan setapak terbuat dari batu batu alam.

Katamu, kamu ingin rumah yang bisa membuatmu merasa pulang. Pulang karena nyaman. Pulang karena aman. Pulang karena kamu ingin pulang. Pulang.

"Arsitek itu membangun impian, ya?" katamu, pada sebuah hari yang lama, sebelum hari ini. "Impianku, rumah dua lantai, dengan perpustakaan, halaman yang cukup luas untuk anak kita bermain sepeda, ada hammock, jalan setapak dari batu..." kamu terdiam sejenak. Menatap mataku dalam dalam. Sambil terus menggenggam erat majalan arsitektur yang biasa dijual di kios kios koran. "Kamu, impianku, Dhit."

Aku tersenyum. Mengacak pelan rambutnya.

Lamunku terus melayang, terbawa aroma kopi panas di tanganku. Sampai akhirnya terdengar suara teriakan kecil.

"Ayah, Ayah!" suara laki laki kecil pengisi hari hariku. "Sepeda Putra kenapa?" bocah kecil itu lalu turun dari sepeda nya sambil menunjuk nunjuk sepedanya.

Aku melipat koranku dan meletakkan cangkir kopiku. Berjalan ke arahnya. Tersenyum ketika melihat sepeda merahnya.

"Sebentar, Ayah ambilkan dulu alatnya di gudang."

Tak lama kemudian aku sudah berkutat dengan rantai sepedanya. Sudah menjadi tugas seorang Ayah untuk memperbaiki apa saja. Apapun. Untuk siapapun, untuk anak maupun untuk istrinya. Itu prinsipku.

"Ayah, ayah bisa memperbaiki apa saja, ya?" kata polos anak laki laki delapan tahun di depanku. Dengan mata bulatnya. Sambil terus menatapku yang membenarkan rantai sepeda roda dua nya.

Aku tersenyum. Mengacak rambut pendek hitam lurusnya.

"Besok kalau sudah besar, Putra pasti juga bisa memperbaiki apapun buat anaknya Putra, kok."

Putra tersenyum. Lalu kembali terjongkok mengamati dalam dalam caraku memperbaiki rantai sepedanya.

"Ayah, ngomong ngomong, besok siapa yang ambil rapot Putra? Ayah apa Bunda?" lanjutnya. Matanya masih mengerjap ke arahku.

"Aku hamil besar. Dan kamu masih sibuk meeting kesana kemari. Aku harus mengandalkan siapa?" tanyamu dengan suara merintih. Membuatku terasa perih.
"Aku.. tapi lagi banyak proyek di kantor, sayang."
"Anakmu gimana?" lanjutmu. Matamu memerah. Bibir bawahmu tergigit. Suaramu bergetar. "Setelah dia lahir, aku mau kita berpisah aja, Dhit."

Lalu bayanganku tentang kredit yang sedang kucicil diam diam sebagai salah satu kejutan untukmu. Sedikit demi sedikit aku gambar rumah seperti apa yang kamu deskripsikan pada malam malam yang sengaja aku senggangkan buat kamu. Inchi demi inchi dari taman, dari tangga lantai dua, dari jalan setapak dari batu. Yang terbayar dari hasil kerja sebagai arsitek di sebuah kantor arsitektur seperti percuma. Kredit. Kredit rumah. Rumah dua lantai. Rumah dua lantai dengan halaman. Dengan jalan setapak. Dengan kamu. Dan anak kita.


Aku tersenyum. "Besok yang ambil rapot Ayah aja, ya?" sambil masih memperbaiki rantai sepeda Putra.

Putra mengangguk angguk.

"Nah, ini sudah selesai Putra."
"Ayah benar benar bisa memperbaiki apa aja, ya!"

Kecuali satu, Putra.
Ibumu.
Addina Faizati
#nowplaying John Mayer - A Face to Call Home
sebuah fiksi yang terinspirasi dari  hal hal tak terduga
Bandung#3

You Might Also Like

3 comments

  1. kok kamu hobi banget bikin cerita sedih-sedih kaya gini deh mbak

    ReplyDelete
  2. @anis hahaha nggak tau juga nis -__-

    ReplyDelete
  3. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    Bersabarlah dalam bertindak agar membuahkan hasil yang manis.,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    ReplyDelete