Hutang

10:09:00 PM


"Hutangmu belum lunas.."
Katamu. Dengan mata berkaca kaca. Jemari yang memainkan ujung baju panjang berendamu. Takut. Malu malu menunduk sambil mencuri curi lirik ke arahku. Bibirmu yang selalu basah kamu gigit pelan dengan gigi mu yang mengenakan kawat gigi berkaret merah muda. Kamu. Cantik.

Sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk membuat hubungan yang seharusnya sudah selesai ini menjadi harus terus terpaksa terhubung karena satu hal yang tidak menyenangkan. Hutang. Janji adalah hutang. Hutang harus dibayar.
“Memangnya, aku ada janji apalagi sama kamu, Kin?” tanyaku lembut sambil mengelus rambutmu.  Aku tersenyum sambil dalam hati mencoba mengingat ingat janji apa yang pernah terucap namun belum sempat terbayar.
Kamu menggeleng. Isakmu bertambah menghentak.
Selalu. Lalu aku memelukmu.
Entah untuk yang keberapa kalinya percakapan yang sama seperti ini terjadi.

Aku tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi antara aku dan Kinar. Apa. Hubungan yang seharusnya sudah selesai. Clear. Namun kami masih saja terus mencoba berkomunikasi. Entah karena kebutuhan tertentu, atau beralasan adanya kebutuhan tertentu, atau alasan alasan lain seolah olah mengharuskan kami berkomunikasi.

Entah sudah berapa puluhan pesan singkat yang terkirim. Atau bahkan tersimpan di chat conversation telepon genggam masing masing. Entah sudah berapa menit, jam, pembicaraan melalui telepon genggam yang sudah kami lewati. Dan entah sudah berapa kali pertemuan yang kami buat demi membicarakan kebutuhan tersebut.

Aku masih begitu menginginkan dia untuk menemaniku.
“Kin, kalau kita kayak gini terus, kenapa kita nggak balikan aja?” tanyaku. Mempertanyakan hubungan kami. Yang mau tak mau. Entah sudah yang keberapa kalinya aku memintanya untuk kembali. Untuk memulai lagi hubungan yang sudah lama kami buat. Yang tiba tiba saja terputus karena sebuah kebodohan.
Kinar hanya menggeleng. Lalu perlahan air matanya meleleh.
“Hutangmu belum lunas…” Isakmu. “Maaf..”
Lalu percakapan itu terus berulang. Berulang dan berulang. Sampai sudah tahun kedua kami menjalani hubungan seperti ini. Sampai kamu bertemu dengan laki laki baru. Aku dekat dengan perempuan baru. Terus seperti ini. Masih terus mencoba coba mencari alasan untuk pesan pesan singkat, panggilan, dan pertemuan. Beralasan kami hanyalah sahabat pada kekasih masing masing. Beralasan urusan pekerjaan. Beralasan. Alasan.

Kamu pergi. Tiba tiba.
“Adi.. kemarin.. Riza ngelamar aku..” katamu pelan. Melalui sebuah sambungan telepon. ”Terus.. aku jawab iya..”
Lalu aku seperti merasa sambungan telepon kami terputus. Aku berbicara namun tidak mendengar apa yang dia katakan. Aku tidak tahu apa maksudnya. Entah memintaku untuk turut bergembira. Entah memintaku melarangnya. Atau entah. Sampai pembicaraan kami selesai. Karena biaya telepon yang mulai membengkak.

Aku seperti tercabik cabik. Hutang apa yang belum aku lunasi sampai Kinar belum bisa menerimaku lagi? Janji apa yang belum kutepati? Aku berusaha mengingat ingat. Membongkar sebuah kardus bergambar bunga bunga berwarna merah muda pemberianmu.
“Ini kardus buatmu, semua barang barang dariku di simpan di sini, ya?” katamu. Empat tahun silam. Ketika kita masih menjalin sebuah hubungan yang hangat dan menyenangkan.
Aku mengeluarkan semua kartu ucapan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 1.5 tahun, 2 tahun, gantungan gantungan kunci yang kamu berikan, semua. Semua. Semua. Semua sudah lunas. Sudah. Lunas.
"Kinar.. aku..” aku terbata bata. Tanganku melepaskan genggaman tanganku. Pada tangan seorang perempuan lain. Perempuan lain. Yang entah apa yang ada dipikiranku sampai pada saat itu aku sampai mampu menyakiti seorang Kinar yang sudah tiga tahun menemaniku dengan segala kekuranganku.
Aku dapat melihat mata Kinar merah. Berkaca kaca. Marah. Sedih. Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada dipikiranku sendiri. Apa?

Pertemuan yang di luar rencanaku. Di sebuah mall. Aku luput. Aku lupa Kinar suka berjalan jalan sendirian. Sekedar mencari buku atau makan es krim. Aku luput. Aku tidak tahu. Aku apa. Brengsek. Seorang laki laki brengsek yang bahkan tidak berusaha mengejar Kinar yang saat itu bergegas meninggalkanku dan perempuan itu. Lalu malamnya aku menerima begitu saja permintaan putus Kinar. Tanpa alasan. Tanpa usaha. Tanpa maaf. Brengsek.

   Tanpa alasan.
   Tanpa usaha.
   Tanpa maaf.
   Tanpa.

   “Maaf.. Nar..” gumamku pelan. “Maaf..”
               
   Tanpa maaf.
   Maaf.


...

 “You owe me an apology..”
 (Adhitia Sofyan - Apology)


You Might Also Like

1 comments