Anjing Anjing (2)

10:03:00 AM

lanjutan dari prolog Anjing-Anjing :)

tapi aku ingin habiskan waktu di sisimu, sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang lucu…

(Soe Hok Gie)

Aku selalu saja terkenang denganmu, sayangku, ketika aku membaca ulang sajak-sajak Soe Hok Gie―yang entah sudah keberapa kali aku membaca ulang buku tebal itu―terutama pada salah satu syairnya, yang tadi sudah kutuliskan sebelumnya.

…tapi aku ingin habiskan waktu di sisimu, sayangku. Bicara tentang anjing-anjing kita yang lucu…”

Aku bahkan selalu berusaha keras menahan tawaku ketika membaca bagian tersebut. Menahan tawa karena aku mengingat kamu. Ya, kamu. Yang terobsesi dengan anjing. Hahaha, jangan cemberut dulu, donk! Maksudku, kamu suka sekali memelihara anjing. Semua jenis anjing. Dari herder, pudel, bulldog, sampai si kecil chihuahua. Dan anjing-anjingmu selalu kamu beri nama yang lucu-lucu. Miki, Fuddi dan Guffi.

Aku masih bisa mengingat saat kamu berpusing ketika kamu berusaha keras menemukan nama yang lucu untuk anjing-anjingmu. Ah, tapi aku lebih ingat lagi saat pertama kali kamu membeli anjing-anjing lucu di sebuah pet shop.

“Aku mau pudel krem itu,” celetukmu tiba-tiba, saat memilah-milah anjing mana yang akan kamu pilih, “berapa mbak, harganya?” lalu kamu menanyakan harga anjing pudel kecil berwarna krem itu kepada penjaga petshop.

“Oh, selera ibu bagus sekali, anjing pudel seperti ini memang sedang tren sekali bu,” jawab penjaga toko itu dengan senang hati, entah senang karena kamu memiliki selera yang bagus, atau karena kamu memilih anjing yang… “Harganya sekitar…” lanjut penjaga toko itu sambil menyebutkan sejumlah harga dalam rupiah yang mungkin cukup untuk membiayai SPP siswa SMA Negeri biasa sampai dua tiga tahun. Err… mahal.

Kamu lalu tersenyum manja kehadapanku. Aku hanya tersenyum. Sambil mengingat-ingat berapa jumlah uang yang kudapat dari pejabat yang tadi siang menghampiriku. Ehm, cukuplah. Bahkan aku akan mendapatkan kembalian.

Aku mengangguk.

Kamu berbinar-binar.

Hihhihi. Lucu sekali saat aku mengingat ekspresimu saat itu. Kamu yang sudah berumur cukup matang masih menunjukkan ekspresi wajah yang berbinar-binar seperti balita habis mendapatkan es krim.

Bedanya, kamu mendapatkan anjing.

Ah, kamu tidak lupa langsung membeli rumah yang bisa dijinjing untuk anjing barumu, makanan anjing, kalung anjing, buku panduan merawat anjing, baju anjing, semua yang serba anjing. Dan uang yang kudapat pada siang itu, masih saja ada kembaliannya, bahkan setengahnya saja tidak berkurang. Tentu saja, mengingat banyaknya angka nol tertera di cek itu.

Lalu sesampainya di rumah kamu cepat-cepat mengajakku berpikir mengenai nama anjing barumu.

“Enaknya, dikasih nama apa ya mas?” begitu kamu menanyakannya kepadaku, yang sama sekali tidak memiliki sense dalam memberi nama, bahkan hanya untuk sekedar memberi nama anjing. “Oh ya mas, tadi itu uang dari siapa?” tanyamu, melenceng dari arah pembicaraan.

Aku menjawab. Dengan sebuah nama yang pasti dikenal oleh kalangan pers maupun kepemerintahan.

“Aha! Nama anjing baru kita, dari nama dia saja, mas! Untuk mengenang kebaikannya yang sudah membuatku bisa membeli anjing pudel bersertifikat ini! Bagaimana?” serumu senang. Entah kamu kreatif, atau kurang ajar. Aku tidak tahu. “Nama anjing kita Guffi, dari Gufron.” Sambil kamu tersenyum-senyum. Entah senang karena sudah mendapatkan nama yang tepat untuk anjing barumu, atau karena bisa melecehkan nama pejabat ternama itu.

Yah, setidaknya, nama itu mengingatkanku kepada Pak Gufron untuk mengangkatnya menjadi kepala dinas pada pemilihan berikutnya.

Sejak itu, sayang, kamu menjadi terobsesi dengan anjing. Kamu terus menambah koleksi anjing-anjingmu. Membeli anjing setelah kamu bosan bermain-main dengan anjing lamamu. Membeli anjing dengan jenis yang berbeda masing-masing. Dan memberinya nama seperti yang kamu lakukan pada Guffi. Miki dari nama Pak Michael, dan Fuddi dari nama Pak Mahfud.

Setidaknya, nama-nama anjing buatanmu itu mengingatkanku pada tuntutan jabatan yang mereka inginkan.

Dan kamu juga selalu terobsesi agar di masa tua kita nanti, kita tetap memelihara anjing-anjing yang lucu dan menyenangkan untuk kita perhatikan gerak-geriknya sambil meminum secangkir teh hangat buatanmu yang legit. Oh ya, kamu juga ingin nanti anak-anak kita juga memelihara anjing-anjing seperti bapak-ibunya. Sehingga nanti kalau kita berkumpul, kita bisa menjadi dua keluarga. Yang satu keluarga manusia pemilik anjing. Yang satu keluarga anjing-anjing kita dan anjing-anjing anak-anak kita.

ke Anjing Anjing (3)

You Might Also Like

1 comments

addinaf

hersketch