Aren't We?

4:09:00 PM

Aku dan kamu terduduk dan terdiam sambil memandangi jalanan yang mulai tua dan merenta, namun masih dipaksa bekerja demi pariwisata kota. Pada suatu café dengan konsep yang dituakan menyesuaikan tua nya jalanan ini, kamu dengan Vietnam drip coffee mu, aku dan green tea latte ku. Kita berdua sama sama terdiam, melihat hingar bingar malam jalan tua ini.. Namun toh isinya tetap hingar bingar muda. Braga. Yang mungkin adalah salah satu jalan favoritmu di kota ini.
It’s been I don’t know how long since our last meet and awkward talk like this. It is too cliché to tell how finally we met again in this café and talk about nothing. Kamu tiba tiba menghubungiku karena kamu sedang ada meeting di Bandung pada hari Jumat dan memutuskan untuk sekaligus menghabiskan akhir pekanmu di sini. And voila! How could I deny you, by the way? And now here I am, menikmati bagaimana kamu malah asyik membaca Musashi setebal 1200 halaman di depan mataku. Membiarkanku terbengong dan terdiam menikmati kerut di dahimu, menikmati jemari tanganmu yang berulang kali membolak balikkan halaman yang tidak kamu mengerti, atau bagaimana kamu menyeruput pelan kopi panas favoritmu. You are always know how to win my heart, Bima.
Aku masih bisa mengingat bagaimana kamu yang dulu belum berjambang, kini sedikit demi sedikit mulai tumbuh jambang di sekitar pipi, kulitmu entah kenapa sedikit menghitam, dan binar matamu yang sudah semakin dewasa. You’ve grown up very well, recently. But you still the one that I knew, masih dengan buku-bukumu, membaca seolah tidak ada waktu lagi besok, membaca seolah tidak ada siapapun di sekitarmu, kamu bahkan membiarkanku membuang waktu ku selama sudah hampir satu jam tanpa banyak perbincangan.
Oh man! Are you straight, for sure? Laki laki lain pasti sudah akan berbicara banyak dan sedikit mencuri untuk menggodaku. Aku hari ini mengenakan rok berwarna biru gelap sepuluh centimeter di atas lutut, loose shirt berwarna kuning gading, dan sepatu hak berwarna cocoa setinggi sembilan centimeter. Rambutku sengaja ku blow sedikit ikal. My makeup is naturally done with the all time favorite red-lipstick. I am perfectly-perfect and he even didn’t look at me.
“Kenapa?” katamu ketus, seperti biasa. Sambil menandai halaman Musashi mu yang sudah mencapai setengahnya. Aku tertawa pelan.
“Kamu tuh ya, masih aja. Aku udah di sini ngeluangin waktu buat kamu, malah ditinggal baca buku yang mungkin lebih tebel daripada hak sepatu.” Lanjutku sambil sedikit meminum green tea latte ku.
“Aku selalu kagum sama bangunan heritage.” Katamu tiba tiba, tanpa ba-bi-bu. Sambil mengagumi bangunan bangunan lawas di hadapan kita. Meskipun menurutku, kawasan Braga ini terlalu bingar untuk disebut kawasan kota tua. Rasanya aku lebih merasakan kemagisan kawasan nol kilometer Jogja. “Pernah ngebayangin nggak, kalau dia, mereka,” sambil kamu kemudian menunjuk ke arah tiga bangunan indische di seberang kami. “Sudah jadi saksi dari ratusan, ribuan kejadian selama ratusan tahun. Kalau mereka adalah manusia, aku yakin mereka bakal jadi manusia yang bijaksana. Mereka bahkan entah sudah berapa kali melihat kematian, peperangan, kebangkitan, revolusi, sampai pada masa modern ini, muda mudi bertengkar, menjadi saksi kejujuran pedagang kaki lima, adanya kecelakaan di ruas jalan ini, atau sekedar orang yang duduk duduk di sini. Kayak kita.”
Kamu masih diam. Memandang mandang. Entah memandangi apa.
“Beda sama manusia. Kita manusia melihat apa yang terjadi, semua belum tentu terjadi secara natural.” Lanjutmu lagi. “I mean, bangunan bangunan ini benda mati, kita manusia menganggap mereka bukan apa apa, disitulah, kita, manusia bisa act naturally, nggak ada yang disembuyikan. Contohnya aja sih, kamu di rumah, di kamar sendiri, pake baju segembel apapun, rambut se-nggak beraturan apapun juga nggak papa kan?” Bima melanjutkan penjelasannya. “Beda sama sesama manusia, kita bertingkah sesuai dengan siapa yang ada di hadapan kita. Bukan berarti kita nggak jadi diri sendiri, tapi ya itu, batas kesopanan dan lain sebagainya. Somehow I wonder how does it feel become a thing. I mean a thing is a thing. Bisa melihat dan dilihat tanpa ada maksud tertentu. Don’t you?
“Kamu masih sama banget kayak Bima yang terakhir kali aku tahu. Masih suka banget ya Bim, sama building and all of those architecture-things?” Aku kemudian tersenyum. “Itu alasan kamu mau lanjut kuliah Master of Architecture di Denmark, September ini?” lanjutku. Kamu mengangguk.
“Akhirnya, setelah satu sampai dua tahun terakhir aku dapet juga. Tinggal tunggu resign, lanjut urus-urus keperluan beasiswa sama kehidupan di sana.”
Aku dan kamu terduduk dan terdiam lagi sambil memandangi jalanan dengan pikiran masing masing. Entah apa yang ada dipikiranmu. Even I don’t know what is in my mind right now. I am just sitting here and gazing at you, sebelum tidak boleh lagi memandangmu, sebelum tidak bisa lagi. Yes, I am that cheesy and cliché. Kata orang, kalau dua orang sudah menikmati dirinya masing masing walaupun mereka sedang bersama, itu adalah tingkatan tertinggi dari suatu kebersamaan. Aren’t we, Bima? Why we are not?
“Udah jam sepuluh malam. Kamu nggak pulang?” tanyamu. Tanganmu melambai pada waiter terdekat dan member tanda meminta bill. “Aku aja yang bayarin.” Here it is, your arrogance.
“Iya deh iya, yang udah kerja jadi kepala studio.” Aku mengejeknya pelan. “Besok ke Jakarta naik apa? Kereta?” Yang dijawabnya hanya dengan anggukan, sambil menyerahkan uang pada pada waiter. Tangannya mengemasi barang barangnya ke dalam tas.
“Terimakasih ya.” Katamu pelan dan kaku, sambil berdiri dan mengangguk sedikit. Kita berdiri berhadapan kamu secara awkward menyalamiku. I try to stole your cheek-kiss, like we used-to-be before, but I failed. “Terimakasih sudah menemani sebentar, dan terimakasih dulu sudah mengajarkan privat IELTS. Salam untuk suami dan anakmu, ya, Tante.”
I really wish you are five or eight years older than me, Bim.
Kamu hanya tersenyum pelan.

Bandung, 31 Januari 2015
Adhitia Sofyan - Deadly Lightning Thunder Storm

You Might Also Like

1 comments

  1. Belum dapat di Denmark, tapi bisa dapat di Itali dan Inggris ya. Dan akhirnya memutuskan ke Itali. :)

    ReplyDelete