What Makes a Good City?

10:45:00 PM


"The mother of art is architecture. Without an architecture of our own we have no soul of our own civilization." --Frank Lloyd Wright


I never know before that architecture-things could be that oh-so-interesting in my eyes. It started happens at about 5 years ago. Even my wall-sticker is about architecture, too. Berawal entah apa yang membuatku menuliskan Arsitektur pada prodi pilihan di Fakultas Teknik di suatu universitas yang cukup ternama di Indonesia. Somehow I believe that this is some kind of what you called faith or destiny. Voila! Aku diterima di jurusan tersebut.

At first, it is more about art, form, color, composition, and presentation. Sampai akhirnya I knew that architecture is more than this. You can call architecture is a combination of engineering and art or anything you want.

"Always design a thing by considering its next larger context - a chair in a room, a room in a house, a house in an environment, an environment in a city plan." --Eliel Saarinen

Seperti kutipan dari Eliel Saarinen, arsitek terkemuka pada awal abad 20 tadi, sedikit banyak kita semua harus meyadari bahwa arsitektur itu adalah sesuatu yang berbasis kota. I mean, belajar arsitektur secara building pasti akan berhubungan sedikit banyak dengan konteks building tersebut dengan kota, kota berhubungan dengan urban, city, lifestyle, mass transportation, dan hal hal lain yang pada akhirnya membentuk karakter suatu negara.

Sebagai mahasiswa arsitektur, kami diberikan contoh contoh urban yang menyenangkan, kendaraan umum yang nyaman, lifestyle yang sehat, berkumpul di ruang terbuka, ada landmark di kota, ada tempat wisata, kesinambungan heritage building dan modern building, hingga kepada museum atau tempat tempat bersejarah khusus yang mampu mengedukasi masyarakat kota. Kota yang sehat akan menghasilkan warga yang sehat juga, warga yang sehat akan berefek pada kesejahteraan dan happiness index dari kota tersebut.

“Walkers are 'practitioners of the city,' for the city is made to be walked. A city is a language, a repository of possibilities, and walking is the act of speaking that language, of selecting from those possibilities. Just as language limits what can be said, architecture limits where one can walk, but the walker invents other ways to go.” -- Rebecca Solnit, Wanderlust: A History of Walking

That's it. Orang yang tepat untuk menilai suatu kota adalah pejalan di kota tersebut. Orang yang harus sudah pernah berjalan kaki, maupun berjalan menggunakan kendaraan di kota tersebut. Unfortunately, Indonesia is not that good example, I thought. Dari sisi tata kota, urban, dan arsitektur ya. Not to mention our beautiful scenery and culture. Apa kamu sudah merasa nyaman untuk ‘berjalan’ di kota kota di Indonesia? And that’s pretty sad.

Gambaran kota kota besar di Indonesia :(

Meanwhile, I’ve adored London since when I don’t know in a pretty different way than the others. Menurutku, kota London adalah salah satu contoh kota yang baik diantara kota kota lainnya. The classic, modern, healthy lifestyle, city, and urban life are all in one packaged.

Let me talk about London in a good city criteria; fasilitas transportasi massal; London tentu saja punya, its trademark; Underground. And they have King’s Cross Station! Where heritage and modern combined, poin plus lagi, bersamaan dengan Westminster Abbey ini adalah setting salah satu film fantasi favorit! Harry Potter, all time and all people’s favorite. Anyway, talking about heritage building, don’t forget the famous one; Buckingham Place!  We all know that. Three points for London.

King's Cross Station as a Mass Transport Mode Transit
Kombinasi Heritage Building (kiri) dan Modern Building (kanan)

Buckingham Palace
Where the heritage building stood still nicely
Westminster Abbey
Another heritage building stood still

Sementara di Indonesia, transportasi umum massal baru hendak akan dibangun. Ketinggalan berapa tahun deh. Parahnya lagi, bangunan heritage di Indonesia kebanyakan tidak terawatt dan malah jadi terkesan angker. Untuk beberapa kota dan kawasan ada yang terawat dan dijadikan wisata. But not that much.

Next, landmark, sesuatu yang jadi penanda suatu kota. Sudah jelas dong, The Big Ben! A remarkable landmark. Penanda kota London banget. Landmark di Indonesia untuk beberapa kota jelas ada. Untuk kondisinya ya kurang lebih dapat dilihat di kota masing masing lah ya.

Big Ben
Memorable, remarkable, noticeable landmark

Untuk perbandingan terparah di Indonesia dan London adalah ruang terbuka, plaza, atau ruang berkumpul yang aman, nyaman, gratis, dan bebas untuk siapa saja. Masih sangat minim. We can ‘t see something like Trafalgar Square in Indonesia, right? Akhirnya jatuhnya kebanyakan kalau ngumpul ke mall lagi ke mall lagi. Padahal ruang terbuka dan interaksi yang terjadi membuat masyarakat lebih ‘sehat’ jiwanya.

Trafalgar Square
Open Plaza

Suatu kota tidak akan lengkap tanpa tempat rekreasi. Once again, London has it. It’s London Eye! Ini the best banget lah, bisa lihat kota London aerial view, dari sini bisa lihat se kota, bangunannya, tata kota nya, masterplan, tata ruang. Komplit.  Last but not least, another everybody’s favorite; The Beatles. Kota London keren banget karena bisa dan mau menghargai seniman legendarisnya dan membuatkan sebuah ruang atau museum khusus. Ini rekreatif sekaligus edukatif.

London Eye
You can see the whole city here both night and day

The Beatles Museum
Music and The City

See? We are still far away to go to the dream city like London. For me, London is one of the good (or maybe the best?) example of a good city. All I want to do is to learn more there, I want to feel the city by myself, to see, to learn, and also to discover. I believe that the best way to learn is to discover. And there are still a lot more London’s famous building by famous architect that I want to see and feel it by my self.

The Shard, The Gherkin, London City Hall
all by famous architects that I knew it only from the book and internet

You may say I'm so cheesy and naive, but that is all that I want. Bisa dibilang studi banding, tapi bukan studi banding yang kemudian not applicable. Because for me, traveling is not a 'traveling' but more about learning and discovering. We have to 'catch' something. In my case, I learn about architecture and city that we need the most in Indonesia. After all, I wish someday we can apply those tricks in our own city in Indonesia.
 "We shape our buildings; thereafter they shape us." --Winston Churchill





Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog #InggrisGratis
oleh Mister Potato

You Might Also Like

0 comments