Terjatuh

8:01:00 PM



Aku adalah seorang laki laki brengsek. Seorang bajingan, pula. Bahkan aku tidak tahu apa bedanya brengsek dan bajingan, hanya saja karena kurasa salah satu dari mereka belum cukup untuk mendeskripsikan kejelekan-kejelekanku. Maka ku gabungkan. Dan semoga itu cukup.

Laki laki seperti apa yang kalian tidak suka?

Jawab pertanyaan ini, dan gabungkan jawabanmu dan jawaban teman-temanmu. Sebutkan dan daftarkan semua sifat dan kebiasaan buruk hingga ke titik yang tidak bisa kalian bayangkan. Semoga cukup untuk kalian membayangkan seperti apa aku. Apapun. Yang pasti aku adalah laki laki brengsek sekaligus bajingan.
Katanya, laki laki yang baik akan mendapatkan perempuan baik juga. Tapi, aku ini brengsek. Jadi, adakah jatah perempuan baik untuk laki laki brengsek, sepertiku?
Jemari tanganku memainkan puntung rokok menthol ke sepuluh untuk hari ini. Dan mulutku mencoba membentuk bentuk asap nya sambil sesekali bergantian dengan menenggak segelas minuman keras. Satu satunya minuman yang mampu membuatku menahan diri untuk terbangun. Entah gelas yang keberapa. Sampai jam istirahatku habis nanti, gelas ini masih akan terus terisi dan telingaku masih akan mendengarkan list dari bar ini. Ah, sudah malam. Tapi toh aku masih harus bekerja. Pekerjaan yang sama yang sudah kulakukan selama dua tahun terakhir.

“Kamu nggak pengen pulang aja po, le?” Tanya suara perempuan itu dengan lembut, “daripada nganggur, mbok mending bantu Bapak opo Ibu, opo nek kowe gelem buka bengkel wae po neng kene?”  lanjut suara itu. 
Mboten, bu.” Aku menolak halus. 
“Nggih sampun mawon Bu, ndak larang, Bu.”  Ujarku, sudah ingin cepat cepat mengakhiri pembicaraan ini. Lalu cepat cepat menutup telepon.

Aku benar benar laki laki brengsek sekaligus bajingan. Tukang bohong. Bahkan membohongi wanita hebat yang sudah membuat saya masih bisa bernafas di bumi ini dengan lotek buatannya yang enak yang laris di kalangan warga kampung. Dan juga membohongi laki laki yang tidak brengsek. Bapak. Laki laki yang setiap harinya dihabiskan untuk memanggang dirinya sendiri di atas tanah yang berganti masa, hijau lalu kemudian menguning, lalu menggundul. 

Ketika pertamakali aku bilang pada Ibu dan Bapak bahwa aku memutuskan untuk berhenti bersekolah di sekolah menengah kejuruan mesin ini, Ibu menangis. Dan aku yakin Bapak juga. Saya brengsek. Karena membohongi mereka. Mulai dari situ.

“Le, kowe sekolah sing dhuwur yo? Ibu karo Bapak pengen kowe paling ora lulus sekolah kejuruan mesin. Mengko gawe ‘o bengkel ning kene, yo?” 
Begitu kata Ibu ketika beliau merelakanku pergi merantau dengan uang seadanya, dengan ilmu seadanya, dan dengan apa-apa yang seadanya. Ibu dan Bapak ingin aku lulus dari sekolah kejuruan mesin itu dan membuat bengkel di kampung sendiri. Betapa sungguh cita-cita yang sederhana, sebenarnya. Dan waktu itu, aku berjanji untuk memenuhi keinginan beliau, dua orang yang paling saya cintai.

Waktu itu. Sebelum saya bertemu dengan dia. Yang menjadi titik balik hidup saya.
Ah, klise. Sungguh betapa klise hidup saya.

Seperti yang aku bilang, aku ini cuma orang desa yang lugu dan polos. Tidak tahu apa apa, bodoh, dan miskin. Aku tidak tega minta uang kiriman tambahan dari Ibu dan Bapak. Namun di sisi lain aku juga butuh uang. Buat makan, buat menghidupi sekolah di sini juga. Dan bodohnya, di tengah kegentingan itu, aku malah jatuh cinta. Dengan seorang yang lebih tua dari saya. Dua tahun lebih tua. Kakak kelas.

Bodoh.

Di saat makan pun masih harus berpikir mau pakai nasi kerupuk atau tidak sama sekali, malah aku menghabiskan uang untuk sedikit membuat diri saya terlihat tampan di matanya. Ah, cinta. Buta sekali kamu.
Membeli pewangi import murah black market di pinggir jalan, yang kira kira cukup untuk saya makan selama satu minggu. Lalu membeli beberapa kemeja flannel murah untuk memback-up penampilan kumuh saya. Tidak lupa gel rambut. Kalau diingat ingat, malah jijik aku dengan diriku sendiri saat itu.

Malu malu menyapamu yang sungguh terlihat begitu indah meskipun berada di antara mesin mesin dan alat alat berat. Dan malu malu mengajakmu untuk makan siang bersama di kantin sekolah dengan alasan ingin bertanya soal pelajaran. Klise.

“Mmm… kak, ada buku panduan pratikum nggak?” tanyaku malu malu menghampirimu yang sedang terduduk bersama gengmu. Jelas malu. Aku adik kelasmu. Dan aku kan, laki laki. Selama ini sudah jelas peraturannya, meskipun tidak tertulis. Laki laki sebaiknya berhubungan dengan yang usianya lebih muda. Bukan lebih tua. “Boleh aku pinjem, kak?”

Lalu sejak itu mungkin perjalanan dan cerita ku dan dia dimulai. Makan siang di kantin, tertawa dan bercerita, lalu mulai beralasan belajar bersama, dia bermain ke kost ku dan sebaliknya dan seterusnya. Selayaknya orang berpacaran. Tidak sia sia pengorbananku tidak makan seminggu.
Dan hidupku, sekolahku, semua masih biasa saja. Sampai akhirnya, dia lulus dan mulai bekerja. Klise.

“Dek, kamu mau nggak kerja sama aku aja?”

Begitu tanyamu. Setelah beberapa bulan bekerja, namun sudah membawa handphone baru dan bahkan membelikanku juga yang sama, serta berpakaian lebih necis daripada dia yang dulu. Lalu kamu tahu tahu mendatangi kostku, membawakanku makan malam dari restoran mahal dan melontarkan pertanyaan mengejutkan tersebut.

“Di tempatku kerja masih butuh orang, dek.” Lanjutnya, sebelum aku sempat menjawab dengan mulutku yang masih mengunyah. “Dan kamu kompeten buat itu.”
Aku menyelesaikan kunyahanku. Makanannya enak. Pasti mahal. Aku jadi malu karena aku malah ditraktir dia terus sekarang.
“Ngg… kalau hari libur, aku janji akan bantu kakak.”
“Keluar aja dari sekolah, dek.” Ujarnya yakin. Matanya menatapku, tidak kalah meyakinkan. Dan tangannya, menggenggam tanganku erat. Mata kami bertemu. Pun bibir kami.

“Aku udah dapet kerja bu.” Begitu aku mengawali pembicaraanku via telepon dengan Ibuku. Malam itu juga, setelah bibir kami saling bertemu. “Nggak papa bu, malah aku nanti bisa ngirimi Ibu dan Bapak uang. Biar nggak ngerepoti lagi.”
Aku mendengar isak tangis Ibu. Pedih memang. Namun entah mengapa, dia yang disebelahku ini lebih memiliki kekuatan untuk menuntun hidupku.

Maaf, Bu. Aku memang laki laki brengsek dan bajingan.

“Adekku sayang, kamu mau mulai kerja kapan?” dia tersenyum sambil manggut manggut di sebelahku setelah aku mematikan teleponku dengan Ibuku. Tubuhnya masih menempel mesra di tubuhku. Aku terbuai.
“Terserah kakak. 
“Besok ya? Nanti surat pengunduran dirimu biar aku yang urus.” rayunya. Bibirnya lalu menyentuh lembut bibirku. Aku hanya diam dan mengangguk. Sambil masih menikmati.

Tepat rokok ke sepuluh habis saat dia datang. Aku tersenyum getir. Sudah dua tahun. Perasaanku padanya aku paksakan untuk mulai berubah. Namun masih saja sama. Dia mengecup bibirku.
“Duh, jangan ngerokok terus donk, nggak baik tau buat.” Dia menggerutu lalu merebut puntung rokok dari tangan kananku. Lalu dia mengecup bibirku lagi, masih dengan cara yang sama seperti dia merayuku untuk bekerja seperti ini dua tahun yang lalu. Aku diam. Masih saja menurut dengannya. Tidak bisa tidak. Dia bosku dan entah magnet apa yang mampu membuatku tunduk padanya begitu saja.

“Dek, habis ini ada Pak Joko, pengusaha kaya itu, kamu ya yang ngelayanin?”

Aku ini laki laki brengsek dan bajingan.
Dia juga.

Addina Faizati
February 2011


PS: this story i've made when i listen to John Mayer 's - Free Falling (search the lyric and listen to the song to know more). i imagine the man in the story is the 'free falling'. fall to deep into his love. and everything went wrong.

You Might Also Like

0 comments

addinaf

hersketch