In Our Arrogances, We Questioned

8:26:00 AM


In Our Arrogances, We Questioned
sebenernya sih bisa, tapi sulit, katanya cinta bisa ngalahin apa aja? (ah teoriii)

berawal dari sebuah chat random saya dengan teman saya, Hendro Prasetyo.
sedikit terinspirasi dari film cin(T)a :p
kami mempertanyakan sebuah hubungan (yang mungkin ada orang sekitar kami yang mengalami, atau mungkin kamu yang membaca ini, dan bahkan hendro sendiri).

hubungan yang jadi tapi nggak jadi. belum dimulai, tapi sudah berjalan. berjalan, tapi nggak akan berhenti.
kalau saya, saya memilih untuk nggak mau (atau belum? ah, nggak mauuu) mengalami hal menyakitkan seperti itu, kayak lingkaran, berputar putar aja di situ tanpa ada titik temu. yah, kecuali kalau berputar-tanpa-titik-temu itu bisa disebut sebagai titik temu, sih :p

that's what we called dillema, kata saya.

kalau kata hendro, justru di situ serunya, menghadapi dilema, antara hati dan otak, perasaan atau logika. dan sayangnya, dulu dia kalah sama perasaan...

maybe heart is on the left, but it's always right, kata saya lagi.

lalu kata hendro, justru karena hati ada di kiri, dia akan selalu cenderung ke kanan, biar dia bisa jadi 'penengah'. walaupun nyatanya, hati toh tetep di sebelah kiri juga kan? jadi, menurut kami, hati dan otak nggak usah dipaksa untuk menjadi sesuatu yang singkron, karena (sepertinya) memang nggak bisa.

harusnya, hati sama otak itu saling support.

sama kayak hubungan cewek dan cowok. seperti yang kita semua tahu, cewek itu (katanya) suka memiliki kecenderungan pake hati, perasaan. sedangkan cowok, pake otak, logikanya.

disitulah, AHA! nya . makanya, cewek dan cowok itu diciptain berpasang-pasangan, biar si 'hati' (baca: cewek) ini, jadi yang ngebimbing si 'otak' (baca: cowok) begitu juga sebaliknya.

tapi bukan berarti cowok nggak punya perasaan dan cewek nggak punya otak juga looo..
kata hendro, malah, dalam beberapa kasus, yang terjadi justru sebaliknya.
cewek lebih pake otak daripada cowok, contohnya kalo cowok mau ngelakuin hal ekstrim, cewek pasti ngelarang dan ngasih tau bahaya-bahayanya. tapi karen cowok ngikutin perasaannya yang tertantang, akhirnya logikanya malah jadi kalah

see ?

sebenernya apa yang awalnya kami bicarakan ini bukan tentang cewek-cowok gini sih, tapi tentang mempertanyakan suatu hubungan yang tidak memiliki titik temu. OOT memang.

lingkaran yang 'nggak selesai'

ah well, whatever, toh mungkin (bisa jadi) di tengah tengah perjalanannya, ada sesuatu seperti tool di corel draw yang memutus node di lingkaran itu, sehingga lingkaran itu jadi lingkaran yang terputus, bukan karena node yang lain sudah tidak mau bertaut dengan node yang lain.

tapi karena keadaan yang memaksa node itu untuk berpisah...
sounds unfair, i know :)

ini pembicaraan yang berawal dari kisah teman kami, yang tidak usah disebutkan namanya :)
seperti yang sudah dikatakan di atas, sebenernya sih bisa, tapi sulit, meskipun terdengar seperti hanya bualan teori, toh teori nggak bakal ada kalo nggak terealisasi, kan ?

just if he/she is really worth it :)

You Might Also Like

14 comments

  1. makasih qisthiiii muuah hahaha :D

    ReplyDelete
  2. wahahaaa, cin(t)a
    ini film filosofis banget, itb lagi, hahaha
    bagus ndun :)
    *numpang ngregeti blogmu hehe

    ReplyDelete
  3. weheeewww mas briwiiill :DD
    makasih maas

    ReplyDelete
  4. it filled my mind right after I read it
    nice kak... ^^

    ReplyDelete
  5. hmm,, saya agak sedikit merasa kurang "dapet" deh di bagian yang hati di kiri tapi orientasinya ke kanan itu, spertinya membutuhkan penjelsan lebih, tapi saya juga bingung apa... -_____-'' . but overall this is great enough to reprsentate our chat yesterday, nice gaannn! haha!

    ReplyDelete
  6. @hendroo hahaha ! niceee makasih buat chat kita yg sangat random itu:D

    ReplyDelete
  7. nyampe bingung dah mau ngomen apa mbak.... analoginya dapet banget

    ReplyDelete
  8. andin ijin kopas kata2 nya ya. .bagus woooowww :)

    ReplyDelete
  9. film'a mana??
    seru jg kya'a

    btw nice artikel..

    ReplyDelete

addinaf

hersketch